Nama : Ronna
Yolanda Sihotang
Kelas : XII IPA 1
Kelas : XII IPA 1
SEKEPING
MEMORI TENTANGNYA
Ditengah
desau angin rintik-rintik hujan turun membasahi rumput hijau segar dengan potongan
rapi yang tampak di pembelokan komplek pemakaman. Ku parkirkan mobil di tempat
yang disediakan, berjalan menyusuri barisan pohon sambil memandang lekat satu
titik dengan pandangan kosong kearah makamnya. Aroma rumputnya yang khas,
gesekan daun yang menyimpan irama tersendiri. Semuanya itu selalu sukses
membuatku betah berlama-lama disini. Seikat mawar merah kutaruh diatas nisan
dan kutabur diatas batu berbentuk salib. Air mineral yang ada di tas, kutuang
sambil membelai goresan warna emas yang membentuk nama, “Riana Helena”. Aku tak
menyangka ini semua akan terjadi. Kutundukkan kepala. Kugigit bibir sekuat
tenaga mencegah bening kristal itu luruh. Aku sudah terlalu muak menghadapi
kenyataan bahwa kami harus kehilangannya. Cepat-cepat kuhapus bening kristal
itu dari sudut mataku dan mencoba tersenyum walau tetap tidak berhasil menutupi
kekecewaanku yang teramat dalam. Memang dua bulan lalu Helen terlihat pucat. Ia
tidak nafsu makan, terlihat sakit dan sering mimisan. Kami sekeluarga mengira
Helen hanya terkena demam biasa, karena memang ia sering demam dan mimisan.
Kami membawanya ke puskesmas, namun ia dianjurkan untuk dirujuk ke rumah sakit
guna menjalani serangkaian tes laboratorium. Sampai akhirnya kami mendengar
berita dari dokter bahwa Helen mengidap Leukimia stadium 4 atau biasa disebut
penyakit kanker darah. Kata dokter, kemungkinan hidup untuk Helen hanya tinggal
satu bulan lagi. Karena, kanker itu menyerang sel-sel darah putih abnormal yang
diproduksi oleh sumsum tulang.
Aku duduk dibawah pohon beringin sambil melihat langit sore yang tak lagi bertaburkan gerimis. Awan kumulus dengan bentuknya yang khas terlukis rapi diatas kaki-kaki langit dengan warna biru cerahnya yang berpadu dengan serat-serat merah keemasan yang indah terpancar dari si penguasa senja, namun tak juga sukses mendamaikan hatiku. Kenapa harus adikku? Apakah ini takdirnya? Ingin sekali aku mendapat jawaban atas pertanyaanku itu. Walau sebenarnya aku tau bahwa itu adalah takdir yang ditentukan Tuhan pada adikku. Mencoba untuk tegar? Mungkin itulah adikku yang dulu. Seorang gadis yang berusaha tegar menerima semua cobaan itu. Berusaha tetap senyum untuk sedikit meringankan bebannya. Senyumnya itu menurutku menunjukkan kalau dia bahagia dan tak menyesal sama sekali. Dan satu lagi, dia tersenyum bukan karena bersandiwara, melainkan senyumannya itu adalah suatu sikap untuk menyenangkan Tuhan, agar dia terlihat lebih tegar, tak berpenyakitan.
Setelah mengetahui penyakit Helen, kami membawanya ke Penang untuk dirawat oleh dokter ahli kanker darah. Akan tetapi, kesehatannya tak kunjung membaik, bahkan ia kerap kali muntah darah. Saat-saat seperti itu yang aku takutkan. Mama berkali-kali pingsan, aku sering mengurung diri dikamar. Setiap kali ia muntah darah, rasanya jantungku mau copot. Kuucapkan doa yang selalu kuutarakan pagi, siang, sore, malam. “Tuhan, aku tau Engkau gak pernah sibuk, aku tau Engkau selalu mendengar isi hatiku meskipun Engkau gak segera memberi pengabulan atas doaku. Aku gak perlu curiga soal Kau mendengar doaku atau tidak, karna aku percaya telinga-Mu selalu tersedia untuk siapapun yang percaya pada-Mu. Tolong kali ini Tuhan jangan menertawakanku, aku janji gak bakal berantem lagi sama Helen, aku bakal selesaikan kuliah kedokteranku ini dengan baik, aku juga bakal melayani-Mu, jadi pemain musik di gereja. So, please God, sembuhin Helen. Kau harapan ku satu-satunya. Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, aminn.”
Dua tiga hari sebelum kepulangan Helen ke surga, ia tidak mau tidur. Ia benar-benar tidak tidur selama dua hari. Dokter bilang hal itu sering terjadi pada pasien yang mengalami detik-detik terakhir di bumi. Mungkin saja Helen takut. Ketika ia menutup mata, ia takut tidak dapat membuka matanya lagi. Kenapa? Kenapa Tuhan? Bukankah sangat mudah bagi-Mu untuk menyembuhkan sakit seseorang? Kenapa bukannya seseorang yang sangat jahat, yang bebal, yang bahkan tidak pernah menyebut nama-Mu? Ya benar. Helen sudah pergi. Dan ya benar, aku hancur. Tak terbentuk. Sakit. Bagai dihujam ribuan pedang sembilu, mampu membuatku merasakan sakit yang teramat sangat rasanya. Helen telah tiada pada minggu ke 4 bulan Desember, beberapa hari setelah natal. Kami tak dapat bersama-sama merasakan semarak tahun baru dan meriahnya pesta kembang api seperti dahulu. Ah, rasanya aku ingin menangis sekencang-kencangnya, berteriak menumpahkan semua yang mengganjal dipikiranku. Tapi aku tak mampu melakukan apapun. Tubuhku seperti ditimbun suhu dingin dengan minus beberapa derajat. Tak mampu bergerak sama sekali, seluruh sendi terasa lemas. Dadaku begitu sesak. Tak pernah kuduga akan seperti ini, membuat gila logikaku.
Aku duduk dibawah pohon beringin sambil melihat langit sore yang tak lagi bertaburkan gerimis. Awan kumulus dengan bentuknya yang khas terlukis rapi diatas kaki-kaki langit dengan warna biru cerahnya yang berpadu dengan serat-serat merah keemasan yang indah terpancar dari si penguasa senja, namun tak juga sukses mendamaikan hatiku. Kenapa harus adikku? Apakah ini takdirnya? Ingin sekali aku mendapat jawaban atas pertanyaanku itu. Walau sebenarnya aku tau bahwa itu adalah takdir yang ditentukan Tuhan pada adikku. Mencoba untuk tegar? Mungkin itulah adikku yang dulu. Seorang gadis yang berusaha tegar menerima semua cobaan itu. Berusaha tetap senyum untuk sedikit meringankan bebannya. Senyumnya itu menurutku menunjukkan kalau dia bahagia dan tak menyesal sama sekali. Dan satu lagi, dia tersenyum bukan karena bersandiwara, melainkan senyumannya itu adalah suatu sikap untuk menyenangkan Tuhan, agar dia terlihat lebih tegar, tak berpenyakitan.
Setelah mengetahui penyakit Helen, kami membawanya ke Penang untuk dirawat oleh dokter ahli kanker darah. Akan tetapi, kesehatannya tak kunjung membaik, bahkan ia kerap kali muntah darah. Saat-saat seperti itu yang aku takutkan. Mama berkali-kali pingsan, aku sering mengurung diri dikamar. Setiap kali ia muntah darah, rasanya jantungku mau copot. Kuucapkan doa yang selalu kuutarakan pagi, siang, sore, malam. “Tuhan, aku tau Engkau gak pernah sibuk, aku tau Engkau selalu mendengar isi hatiku meskipun Engkau gak segera memberi pengabulan atas doaku. Aku gak perlu curiga soal Kau mendengar doaku atau tidak, karna aku percaya telinga-Mu selalu tersedia untuk siapapun yang percaya pada-Mu. Tolong kali ini Tuhan jangan menertawakanku, aku janji gak bakal berantem lagi sama Helen, aku bakal selesaikan kuliah kedokteranku ini dengan baik, aku juga bakal melayani-Mu, jadi pemain musik di gereja. So, please God, sembuhin Helen. Kau harapan ku satu-satunya. Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, aminn.”
Dua tiga hari sebelum kepulangan Helen ke surga, ia tidak mau tidur. Ia benar-benar tidak tidur selama dua hari. Dokter bilang hal itu sering terjadi pada pasien yang mengalami detik-detik terakhir di bumi. Mungkin saja Helen takut. Ketika ia menutup mata, ia takut tidak dapat membuka matanya lagi. Kenapa? Kenapa Tuhan? Bukankah sangat mudah bagi-Mu untuk menyembuhkan sakit seseorang? Kenapa bukannya seseorang yang sangat jahat, yang bebal, yang bahkan tidak pernah menyebut nama-Mu? Ya benar. Helen sudah pergi. Dan ya benar, aku hancur. Tak terbentuk. Sakit. Bagai dihujam ribuan pedang sembilu, mampu membuatku merasakan sakit yang teramat sangat rasanya. Helen telah tiada pada minggu ke 4 bulan Desember, beberapa hari setelah natal. Kami tak dapat bersama-sama merasakan semarak tahun baru dan meriahnya pesta kembang api seperti dahulu. Ah, rasanya aku ingin menangis sekencang-kencangnya, berteriak menumpahkan semua yang mengganjal dipikiranku. Tapi aku tak mampu melakukan apapun. Tubuhku seperti ditimbun suhu dingin dengan minus beberapa derajat. Tak mampu bergerak sama sekali, seluruh sendi terasa lemas. Dadaku begitu sesak. Tak pernah kuduga akan seperti ini, membuat gila logikaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar